Sabtu, 12 Agustus 2017, telah diadakan “Penyuluhan Budidaya Azolla Microphylla” di Balai Desa Pesuruhan, Puring, Kebumen. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pemberdayaan Masyarakat (Pemmas) Tahun 2017 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bekerja sama dengan Pemerintahan Desa Pesuruhan mengundang masyarakat Desa Pesuruhan untuk menghadiri kegiatan tersebut. Alhasil, masyarakat yang hadir sejumlah 25 orang.

Kegiatan ini didasarkan pada tujuan untuk mengenalkan masyarakat tentang cara pembudidayaan Azolla Microphylla dan kegunaannya. Pemateri dari kegiatan ini adalah Muhamad Syarifudin Hidayatullah (Koordinator Mahasiswa Desa Kelompok Mahasiswa KKN Pemmas Tahun 2017 Unsoed) atau akrab dipanggil Emseh. Pertama-tama, masyarakat dijelaskan tentang Azolla Microphylla itu sendiri yang merupakan tanaman air yang dapat tumbuh dengan cepat (sekitar 2-3 minggu tergantung media tanamnya). Lalu, dijelaskan pula kegunaan atau keuntungan dari tanaman ini yaitu sebagai pakan ternak (unggas maupun ikan) berkualitas yang dapat mempercepat pertumbuhan ternak dibandingkan pakan jenis lainnya, mudah dibudidayakan, dan bahan pupuk alami. Dengan segala keuntungan tersebut, tentulah membudidayakan Azolla Microphylla akan sangat menguntungkan bagi warga yang mempunyai ternak dan kolam. Mengingat pula bahwa pakan ternak khususnya ikan susah didapatkan dan mahal pula harganya, maka dikenalkanlah Azolla Microphylla sebagai solusi terbaik untuk pakan ternak (ayam, entog, bebek, burung, ikan, dan binatang herbivora lainnya). Masyarakat pun tampak fokus menyimak pembahasan mengenai tanaman jenis ini.

 

Pembahasan berlanjut mengenai larangan dan hama yang dapat merusak pertumbuhan Azolla Microphylla. Larangan itu berupa jangan menanam Azolla di kolam yang terdapat ikan dalam jumlah banyak, karena Azolla akan habis lebih dahulu sebelum tumbuh dan berkembang; jangan menanam Azolla di tempat tertutup, karena Azolla membutuhkan sinar matahari untuk tumbuh dan berkembang; dan jangan memberikan pupuk organik cair/padat dalam jumlah sedikit atau terlalu banyak apalagi sampai tidak diberikan, karena akan membuat Azolla menjadi tidak subur dan membercak (gagal panen). Lalu, dijelaskan pula tentang hama Azolla yaitu: 1) kodok, yang nantinya bisa bertelur di dekat kolam, dan kemudian kecebongnya akan memakan akar atau mikroba di akar Azolla sehingga Azolla akan merana, kuning, dan mengecil (gagal panen); dan 2) serangga-serangga herbivora atau omnivora yang dapat berenang di antara Azolla dan memakan Azolla tersebut sedikit demi sedikit.

 

            Usai pembahasan tentang Azolla Microphylla dan kegunaannya selesai, kegiatan berlanjut dengan demontsrasi atau tata cara pembudidayaan Azolla Microphylla yang baik dan benar. Sebelum melakukan demonstrasi, diingatkan pula bahwa dalam pembudidayaan Azolla disesuaikan tergantung kebutuhan dan jumlah ternak yang dimiliki. Semisal punya banyak ternak, Azolla dibudidayakan dalam jumlah yang banyak pula (di kolam). Semisal punya sedikit ternak, Azolla dibudidayakan dalam jumlah yang sedikit pula (di ember, tampah, bak, dan lain-lain).

            Demonstrasi pun dilakukan dengan ember sebagai media tanam Azolla, karena mayoritas warga di Desa Pesuruhan tidak memiliki kolam. Pendemonstrasi pembudidayaan Azolla adalah Roni Haryadi Jumadi (Bidang Lingkungan Kelompok Mahasiswa KKN Pemmas Tahun 2017 Unsoed).  Ia pun menjelaskan perbandingan pembudidayaan Azolla yang dilakukan di ember atau sejenisnya dengan yang dilakukan di kolam, terutama terkait komposisi antara air dengan pupuk.

            “Langkah pertama, campurkan tanah dan tahi sapi lalu masukkan ke dalam air. Ketinggian air sekitar 5-10 senti. Lalu, tambahkan EM4 secukupnya sesuai volume air. Bisa dikira-kiralah. Tambahkan POC (Pupuk Organik Cair) bila ada, tapi kalau tidak ada, tidak apa-apa. Kemudian aduk air sampai semua tercampur rata, dan diamkan selama 1 hari sebelum Azolla ditanam. Karena EM4 ini panas, jadi kalau langsung ditaruh (Azolla-nya) bakal kecoklatan dan enggak tumbuh,” paparnya sambil memperagakan.

            Usai demonstrasi selesai, dibuka sesi tanya-jawab oleh Emseh. Tak lama berselang, ada satu warga yang bertanya.

            “Itu kalau beli Azolla-nya di mana ya?”

            “Kalau Azolla ini kami dikasih dari Purwokerto. Kalau ibu-ibu sama bapak-bapak ingin, nanti bisa datang ke posko,” jawab Emseh.

            Emseh pun mempersilakan warga untuk bertanya apabila masih ada yang ingin bertanya. Akan tetapi, warga tidak ada yang bertanya lagi. Oleh sebab itu, kegiatan “Penyuluhan Azolla Microphyll dan Demonstrasi Pembudidayaannya” diselesaikan.

            “Harapan kami, bapak dan ibu sekalian dapat menanam Azolla dengan baik,” ucap Emseh sekaligus menutup kegiatan.

 

Ditulis Oleh :Pemdes Pesuruhan
Pada : 24 Agustus 2017 13:05:55 WIB

Komentar Artikel Terkait

Post Komentar :


Nama
Alamat Email
Komentar