Sosialisasi Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah Tahun Emisi 2016

 

Senin, 14 Agustus 2017, telah diadakan kegiatan “Sosialisasi Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah Tahun Emisi 2016” di Balai Desa Pesuruhan, Puring, Kebumen. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat Pesuruhan sebanyak 29 orang. Kegiatan ini ditujukan kepada masyarakat Desa Pesuruhan dan didasarkan pada tujuan untuk memberitahukan kepada masyakarat Desa Pesuruhan mengenai keaslian uang Rupiah tahun emisi 2016 supaya mengantisipasi adanya transaksi dengan uang palsu, khususnya ibu-ibu yang sering bertransaksi di pasar.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pemberdayaan Masyarakat (Pemmas) Tahun 2017 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Desa Pesuruhan bekerja sama dengan Pemerintahan Desa Pesuruhan dan Narasumber dari Bank Indonesia Cabang Purwokerto Unit Pengelolaan Uang Rupiah, yaitu Pak Sulis dan Pak Didik. Sebelum kegiatan berlangsung, masyarakat yang hadir diberikan brosur mengenai ciri-ciri keaslian uang Rupiah tahun emisi 2016 agar narasumber lebih mudah menjelaskan materi kepada masyarakat sehingga lebih mudah pula dimengerti.

Sebelum memasuki materi tentang ciri-ciri keaslian uang Rupiah tahun emisi 2016, Pak Sulis selaku Narasumber memaparkan mengenai latar belakang dan fungsi Bank Indonesia, yaitu salah satunya sebagai bank sentral yang bertugas mendistribusikan uang Rupiah baik dalam bentuk kertas maupun logam ke seluruh wilayah Indonesia agar masyarakat Indonesia menggunakan Rupiah sebagai mata uang yang sah dalam bertransaksi. Kemudian berlanjut membahas tentang ciri-ciri atau tanda yang ada pada uang Rupiah tahun emisi 2016. Masyarakat pun diajak untuk ikut serta membuktikan tanda per tanda dengan diberikan uang Rupiah kertas tahun emisi 2016 sebagai contoh. Metode yang digunakan untuk membuktikan keaslian yang ada pada uang Rupiah kertas tahun emisi 2016 ialah dengan metode 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang).

Metode pertama yaitu Dilihat. Hal-hal yang dilihat ialah uang Rupiah tahun emisi 2016  memiliki warna yang terlihat terang dan jelas; dan terdapat benang pengaman seperti dianyam pada uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000, Rp50.000, dan Rp20.000. Pak Sulis pun menambahkan bahwa khusus pada benang pengaman yang ada pada pecahan Rp100.000 dan Rp50.000 akan berubah warna bila dilihat dari sudut pandang tertentu. Lalu, masyarakat diajak untuk membuktikan tanda itu dan ternyata memang benar.

Metode kedua yaitu Diraba. Bagian uang yang diraba ialah bagian yang kasar yang terdapat nominal Rupiah, lambang Pancasila, dan tulisan “NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA”. Masyarakat pun langsung meraba bagian-bagian yang disebutkan dan memang terasa kasar. Pak Sulis pun menambahkan bahwa terdapat perbedaan antara uang cetakan baru dengan uang cetakan lama yaitu pada uang Rupiah kertas tahun emisi 2016 terdapat Kode Tunanetra berupa pasangan garis di sisi kanan dan kiri uang yang akan terasa kasar apabila diraba.

Metode ketiga yaitu Diterawang. Metode ini dilakukan dengan mengarahkan uang ke arah cahaya. Ketika diterawang akan terlihat “Tanda Air” (Watermark) berupa gambar pahlawan dan ornamen pada pecahan tertentu. Pak Sulis kembali menambahkan bahwa ada tanda bernama “Rectoverso”.

“Rectoverso adalah lambang BI yang dipisah menjadi dua bagian dan akan terlihat menyatu apabila diterawang,” ucapnya. Rectoverso ada pada sisi kiri uang Rupiah kertas. Masyarakat pun langsung menerawang uang Rupiah kertas tahun emisi 2016 dan kesemua tanda itu (watermark, ornamen, dan rectoverso) memang ada.

Kegiatan ini berlangsung komunikatif antara narasumber dengan peserta. Sebagai buktinya, ketika Pak Sulis bertanya, “Ketika bapak-bapak atau ibu-ibu mendapat uang palsu, apa yang bapak-bapak atau ibu-ibu lakukan?” dan mempersilakan masyarkat untuk maju dan menjawab pertanyaan tersebut. Tak lama kemudian, ada salah satu peserta maju dan menjawab, “Kalau ada uang palsu yang saya dapat, saya simpan dan jadiin bukti biar enggak tersebar lagi (uang palsunya).” Mendengar jawaban dari peserta tersebut, Pak Sulis pun sepakat dan memberikan hadiah atas jawaban yang diberikan. Kemudian Pak Sulis memberitahukan kepada warga terkait sanksi yang diberikan kepada tersangka/pelaku pemalsuan atau pengedaran, serta mengimbau supaya warga yang tidak sengaja mendapatkan uang palsu untuk melapor ke pihak keamanan terdekat untuk diproses lebih lanjut.

Ia pun bercerita mengenai pengalamannya ketika menangani kasus pemalsuan uang di daerah Ajibarang. Saat itu hari sudah cukup sore, pedagang sudah siap-siap untuk menutup lapaknya. Ada dua orang yang datang, satu bertugas mengawasi keadaan sekitar pasar dan satu bertugas bertransaksi menggunakan uang palsu dengan pedagang yang masih berjualan dan sudah terbilang tua umurnya. Korban menjadi sasaran pelaku kejahatan karena dianggap tidak tahu tentang uang Rupiah tahun emisi 2016. Beruntung, di sebelahnya, ada pedagang yang tampak muda yang curiga terhadap uang yang diberikan pelaku karena warnanya tidak cerah. Pelaku yang bertransaksi pun tertangkap, sedangkan temannya sempat kabur. Namun, beberapa hari selanjutnya juga ikut tertangkap.

Usai bercerita, giliran Pak Didik memberitahukan tentang cara penukaran uang. Layanan penukaran uang oleh Bank Indonesia meliputi penukaran uang layak edar atau uang tidak layak edar (lusuh, cacat, dan rusak) dengan uang yang masih layak edar dalam pecahan yang sama atau pecahan lain serta penukaran uang yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran yang masih berlaku masa penukarannya. Pak Didik pun menambahkan apabila uang robek, yaitu uang masih bisa ditukarkan ke Bank Indonesia dengan keutuhan minimal  dari bentuk uang. Untuk jadwal penukaran  pada umumnya ditentukan pada hari tertentu-tertentu yang dimulai dari pukul 09.00 sampai pukul 11.30 waktu setempat.

Kemudian Pak Sulis membuka sesi tanya-jawab. Tampak ada satu peserta yang mengangkat tangan. Pak Sulis mempersilakan.

“Saya kan bagian dari pemerintahan desa. Apabila ingin mencairkan uang pasti dalam jumlah banyak. Mungkinkah dari sekian banyak uang tersebut terdapat uang palsu? Kan tidak mungkin dihitung satu per satu,” tanya salah satu peserta.

Pak Sulis menjawab bahwa kemungkinan terselip uang palsu di antara tumpukan uang asli yang dicairkan sangat kecil bahkan hampir tidak mungkin karena ada bagian yang mengawasinya. Tak lama setelah menjawab, ada peserta lain yang bertanya.

“Semisal kami mencairkan uang, tetapi ketika sampai rumah ternyata uangnya kurang. Itu bagaimana?”

“Kalau untuk itu di luar tanggung jawab kami apabila nasabah sudah meninggalkan loket. Maka diimbau untuk menghitung uang kembali di dalam loket atau bisa meminta tolong kepada teller yang melayani,” jawab Pak Sulis. Ia pun juga berbicara kepada semua peserta yang hadir dengan mengubah sudut pandang sebagai teller yang melayani pencairan uang. “Bisa saja nasabah membelanjakan uang itu dulu, lalu komplain (uangnya kurang). Tentunya kita sebagai teller tidak mau melayani karena nasabah sudah keluar loket,” tambahnya. Mendengar jawaban yang diberikan, para warga pun beberapa mengangguk tanda sepakat.

Usai menjawab, Pak Sulis pun kembali mempersilakan apabila masih ada yang ingin bertanya. Ternyata masih ada yang ingin bertanya.

“Di pasar-pasar biasanya ada orang yang menerima jasa penukaran uang. Istilahnya calo. Tapi nanti setelah ditukar bakal dipotong sekian. Jadi semisal kita nuker seratus ribu, nanti dikasihnya enggak seratus ribu. Itu bagaimana?” tanya salah satu peserta.

“Sejujurnya itu tidak diperbolehkan (secara hukum). Namun, secara tidak langsung calo tersebut membantu BI dalam menukarkan uang. Semisal jarak dari rumah Ibu ke BI cukup jauh, sedangkan uang yang ditukar tidak banyak, kan bisa rugi di ongkos. Jadi tidak masalah (bila ada calo),” jawab Pak Sulis.

            Pak Sulis kembali menerangkan materi ciri-ciri keaslian uang Rupiah kertas tahun emisi 2016 bahwa terdapat beberapa tanda khusus apabila dilihat menggunakan sinar ultraviolet. Namun, karena tidak tersedia alatnya, maka ia menjelaskan ada tanda lain yang bisa dilihat hanya dengan menggunakan mikroskop. Tanda itu bisa disebut teks mikro berupa huruf dengan ukuran yang sangat kecil yang membentuk teks dan angka tertentu. Masyarakat pun diberikan mikroskop khusus untuk mengecek tanda tersebut.

            Penyampaian materi pun selesai. Sebelum kegiatan benar-benar ditutup, Pak Sulis menyampaikan pesan kepada peserta bahwa informasi mengenai ciri-ciri keaslian uang Rupiah tahun emisi 2016 jangan berhenti sampai di sini. “Sebarkan info ini kepada keluarga Bapak Ibu sekalian supaya tidak menjadi korban pemalsuan uang,” pesannya.

Kegiatan “Sosialisasi Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah Tahun Emisi 2016” pun selesai. Masyarakat kembali pulang dengan membawa brosur dan mikroskop. Sementara, mahasiswa KKN Pemmas Tahun 2017 Unsoed Desa Pesuruhan berfoto bersama Pak Sulis dan Pak Didik.

Artikel Terkini

 Pendataan Penduduk Miskin merupakan rangkaian kegiatan dari program percepatan penanggulangan kemiskinan yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen. Landasan hukum dari pendataan penduduk miskin adalah Perda No 20 Tahun 2014 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.  Landasan Hukum lain adalah Perbup pendataan pendu...Baca Selengkapnya

Sosialisasi Pendataan Penduduk Miskin Di Desa Pesuruan

Sosialisasi Pendataan penduduk miskin di Desa Pesuruhan Dilaksanakan pada tanggal lima Mei 2014 di Balai Desa Pesuruhan. Acara ini terselenggara berkat Kerjasama LSM Formasi dengan Pemdes Pesuruhan. Peserta dari sosialisasi ini adalah 41 warga yang terdiri dari seluruh elemen warga dan lembaga desa di Desa Pesuruan. Tujuan dari acara tersebut ad...Baca Selengkapnya

Pembuatan talud drainase

Desa kecil di Kecamatan Puring yang berbatasan dengan buayan tak lain adalah Pesuruhan. Desa ini di kelilingi sawah, jalan dan selokan air (saluran drainase). Kondisi tanah yang labil, air laut (asin) yang sering pasang dan hewan sebangsa kepiting yang sering membuat tanah (badan jalan) gugur menutupi saluran drainase. Hal ini perlu pembuatan ta...Baca Selengkapnya

Upacara Adat ( Suran )

Satu Januari adalah tahun baru Masehi yang dirayakan seluruh masyarakat dunia. Ada pesta kembang api, ada liburan ke tempat wisata dan lain-lain. Begitu juga ketika menjelang Tahun Baru Jawa, tentunya masyarakat Jawapun ingin mempunyai harapan-harapan yang lebih baik di tahun baru yang akan datang dan tentunya juga m...Baca Selengkapnya